Doa Seorang Muslim Yang Resah

Sudah menjadi ketetapan Allah Jalla wa ‘Ala, kita sebagai manusia akan terus diuji dalam kehidupan ini berupa kesusahan dan kepedihan. Jiwa merasakan berbagai hal yang menyebabkan rasa sakit, kekhawatiran, kesedihan, penderitaan, dan kesempitan hidup. Terlebih lagi jiwa manusia memiliki tabiat suka berkeluh kesah atas ujian yang dia dapatkan.

إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19)

Maka menjadi sesuatu yang menakjubkan, luar biasa, manakala beban berat ditambah tabiatnya yang suka berkeluh kesah itu justru dia gunakan sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

عجبًا لأمرِ المؤمنِ ، إنَّ أمرَه كلَّهُ له خيرٌ ، و ليس ذلك لأحدٍ إلا للمؤمنِ ، إن أصابتْهُ سرَّاءُ شكر وكان خيرًا لهُ ، و إن أصابتْهُ ضرَّاءُ صبرَ فكان خيرًا له

“Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya.” [1]

Inilah kekhususan seorang mukmin yang tidak ada bagi selainnya. Walaupun orang kafir juga ditimpa musibah tidaklah dia akan mampu melaksanakannya disamping juga kesia-siaan yang akan dia dapatkan dan ditambah pula adzab di hari akhir.

Yang perlu diperhatikan di sini bahwa tidaklah dinamakan kesabaran apabila dia berkeluh kesah yang benar adalah mengadukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagaimana Nabiyullah Ya’qub ‘alaihissalaam,

إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّـهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yusuf: 86)

Bentuk kesedihan dan kesusahan ini bermacam-macam dan berkaitan dengan waktu yang dijalani oleh seorang hamba. Walapun musibah telah berlalu tetap saja menyisakan rasa pedih dalam jiwa dan kekhawatiran atas musibah yang akan menimpanya di masa yang akan datang.

Rasa pedih dalam hati yang berkaitan dengan masa lalu disebut huzn (حُزنٌ/kesedihan). Perasaan pedih dalam hati yang berkaitan dengan permasalahan masa yang akan datang disebut hamm (هَمٌّ/kekhawatiran/cemas). Rasa sakit dalam hati yang berkaitan dengan waktu sekarang atau sedang berlangsung disebut ghamm (غَمٌّ/penderitaan/kesusahan).

Dan segala puji hanya milik Allah Azza wa Jalla yang telah menurunkan Islam ini sebagai solusi atas segala permasalahan. Maka terdapat wasiat yang agung bagi orang yang dilanda kesusahan bertubi-tubi yang menjadikan dunia terasa begitu sempit padahal bumi Allah itu luas.

Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita sebuah doa dengan makna dan kandungan yang sangat agung di dalamnya,

ما قال عبد قط إذا أصابه هم أو حزن : اَللَّهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ ، مَاضٍ فِي حُكْمِكَ، عَدْلٌ فِي قَضَاءِكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اِسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجَلاَءَ حُزْنِي وَذِهَابَ هَمِّي إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا ، قالوا : يا رسول الله ، ينبغي لنا أن نتعلم هذه الكلمات ؟ قال : أجل ، ينبغي لمن سمعهن أن يتعلمهن

Tidaklah seorang hamba ketika dilanda hamm (rasa khawatir) dan huzn (kesedihan) lalu mengucapkan

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil. Aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan al-qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihan.”

Kecuali Allah akan menghilangkan kekhawatiran dan menggantikan kesedihan menjadi kebahagiaan. Mereka (para shahabat) berkata, “Wahai rasulullah, apakah sebaiknya kami mempelajari kalimat-kalimat itu?” Beliau menjawab: “Tentu saja, sepantasnya orang yang mendengarnya untuk mempelajarinya.” [2]

Sungguh, ahlul ilmi menasehatkan kepada kita untuk mempelajari dan bersemangat mengamalkan do’a ini ketika tertimpa kesedihan, kecemasan, dan derita (huzn, hamm, dan ghamm).

Apabila mau merenungkan do’a ini, kita akan menemukan empat prinsip yang agung. Tidak ada jalan bagi seorang hamba untuk terlepas dari rasa kekhawatiran/gelisah, kesedihan, dan penderitaan serta memperoleh ketenangan dan kebahagiaan kecuali dengan memahami empat prinsip ini dan melaksanakannya.

Prinsip pertama

Benar-benar merealisasikan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, merendahkan diri di hadapan-Nya, menyadari bahwa kita adalah makhluk ciptaan-Nya sekaligus hamba-Nya, baik dirinya maupun ayah dan ibu kita serta pendahulu semenjak Nabi Adam dan Hawa ‘alaihimassalaam.

Itulah sebabnya kita mengucapkan:

اللهم إني عبدك ابن عبدك ابن أمتك

“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu, dan anak hamba perempuan-Mu.”

Semuanya adalah hamba Allah. Dialah yang telah menciptakan mereka, Rabb mereka, Penguasa mereka, yang mengurusi segala sesuatu. Tidak bisa lepas walaupun hanya sekejap mata.

Maka sudah sewajibnya kita beribadah dengan rasa keterhinaan dan ketundukannya kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya, selalu butuh kepada-Nya, berlindung kepada-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, tawakkal kepada-Nya, meminta perlindungan kepada-Nya, dan tidak bertaut pada selain-Nya, baik dalam hal kecintaan (mahabbah), rasa takut (khauf), maupun pengharapan (roja’).

Prinsip kedua

Mengimani qadha dan qadar Allah. apa yang dikehendaki Allah pasti terjadi, sedang yang tidak dikehendaki-Nya tak akan pernah terjadi selama-lamanya. Pun bahwa tidak ada yang sanggup ikut campur dalam hukum Allah, tak ada pula yang dapat menolak keputusan-Nya.

مَّا يَفْتَحِ اللَّـهُ لِلنَّاسِ مِن رَّ‌حْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْ‌سِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fathir: 2)

Itulah sebabnya kita mengucapkan:

ناصيتي بيدك ، ماض في حكمك عدل في قضاؤك

“Ubun-ubunku di tangan-Mu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadha-Mu kepadaku adalah adil.”

Ubun-ubun yakni kepada bagian depan, ada di tangan Allah. Dia memperlakukannya sekehendak-Nya. Memberi ketentuan sesuai dengan yang Dia kehendaki. Tidak ada yang bisa mencampuri ketentuan dan keputusan-Nya, tidak pula menolaknya. Maka dari itu, kehidupan seorang hamba, kematiannya, kebahagiaannya, kesengsaraannya, kesehatannya, cobaan hidup, semua itu kembali pada Allah, bukan menjadi wewenang hamba.

Bila kita meyakini dan menyadari bahwa ubun-ubun kita semuanya ada di tangan Allah, Dia akan memperlakukannya dengan kehendak-Nya, maka akan menjadikan diri kita tidak takut kepada sesama hamba, tidak menaruh harap pada mereka, tidak memposisikan mereka sebagai pemilik dirinya, tidak menggantungkan harapan pada mereka. Setelah itu, barulah tauhid, tawakkal dan penghambaannya kepada Alllah benar-benar terwujud.

نِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّـهِ رَ‌بِّي وَرَ‌بِّكُم ۚ مَّا مِن دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا ۚ إِنَّ رَ‌بِّي عَلَىٰ صِرَ‌اطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dialah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (QS. Hud: 56)

Ungkapan,

ماض في حكمك

“Ketentuan-Mu berlaku padaku.”

Mencakup dua ketentuan;
1. Ketentuan dalam agama
2. Ketentuan takdir berkenaan dengan semesta.

Dua ketentuan ini berlaku pada diri hamba, ia terima ataupun metolak. Tapi ketentuan takdir yang berkenaan dengan semesta ini tidak mungkin untuk dilawan. Sedangkan ketentuan agama terkadang dilanggar oleh seorang hamba dan ia terancam mendapat siksa sesuai pelanggaran yang dilakukan.

Ungkapan,

عدل في قضاؤك

“Qadha-Mu kepadaku adalah adil.”

Meliputi semua keputusan Allah terhadap hamba-Nya dari segala sisi, baik itu kesehatan atau sakit, kaya atau miskin, rasa nikmat atau rasa pedih, hidup atau mati, mendapat siksa atau mendapat ampunan, semua keputusan Allah itu adalah adil!

وَمَا رَ‌بُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ

“Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Fushilat: 53)

Prinsip ketiga

Meyakini nama-nama Allah yang husna (asmaul husna) dan sifat-sifat-Nya yang agung yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Bertawassul kepada Allah dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ

“Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu” (QS. Al-A’raf: 180)

قُلِ ادْعُوا اللَّـهَ أَوِ ادْعُوا الرَّ‌حْمَـٰنَ ۖ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ

“Katakanlah: Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaul husna (nama-nama yang terbaik).” (QS. Al-Israa: 110)

Semakin dia mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, maka semakin besar rasa takut kepada Allah, semakin besar merasakan pengawasan-Nya terhadap dirinya dan akan semakin jauh dari kemaksiatan dan hal-hal yang menyebabkan Allah murka.

Berkata sebagian salaf,

من كان بالله أعرف كان منه أخوف

“Barangsiapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut kepada Allah.”

Oleh karena itu, hal yang terpenting yang dapat mengusir rasa sedih, cemas, dan gelisah adalah di saat hamba mengenal Rabbnya, memenuhi hatinya dengan pengetahuan tentang Allah dan bertawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Karena itulah dalam do’a tersebut dinyatakan,

أسألك بكل اسم هو لك سميت به نفسك أو أنزلته في كتابك أو علمته أحدا من خلقك أو استأثرت به في علم الغيب عندك

“Aku memohon kepada-Mu dengan nama-nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diri-Mu, yang Engkau turunkan dalam kitab-Mu. Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhluk-Mu atau yang Engkau khususkan untuk diri-Mu dalam ilmu ghaib di sisi-Mu.”

Ini adalah wasilah yang sangat dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Prinsip keempat

Memberikan perhatian pada Al-Qur’anul Karim yang tidak mengandung kebatilan dan keraguan sedikit pun di dalamnya, yang memberi petunjuk, kesembuhan, kecukupan dan jalan keselamatan.

لَّا يَأْتِيهِ الْبَاطِلُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَلَا مِنْ خَلْفِهِ ۖ تَنزِيلٌ مِّنْ حَكِيمٍ حَمِيدٍ

“Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Fushilat: 42)

Semakin seseorang memberikan perhatian kepada Al-Qur’an dengan cara membacanya, menghafal, mempelajari, merenungkan, dan mengamalkannya, maka semakin dia akan memperoleh kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian. Sebagaimana sabda beliau,

إلا أذهب الله همه وأبدله مكان حزنه فرحا

“Kecuali Allah akan menghilangkan kekhawatiran dan menggantikan kesedihan menjadi kebahagiaan.”

Inilah empat prinsip agung dari do’a yang penuh berkah. Sudah semestinya kita sebagai seorang muslim menghayatinya dan berusaha mewujudkannya, supaya bisa memperoleh janji Allah dan keutamaan agung berupa diangkatnya rasa sedih dan gelisah yang berganti dengan kebahagiaan, ketenangan, dan jalan keluar.

Terakhir, semoga menjadi penyemangat bagi kita semua tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لا يصيب المسلم هم ولا غم ولا نصب ولا وصب ولا أذى حتى الشوكة إلا كفر الله بها من خطاياه

“Tidaklah seorang muslim tertimpa rasa kesedihan, kesusahan, penyakit, gangguan walau hanya sekedar tertusuk duri, pasti Allah akan menjadikannya penghapus dosa-dosa yang ia miliki” [3]

Maka bersemangatlah, bahwa apa saja yang menimpa diri kita dan semua perasaan hati yang kita alami tidaklah sia-sia, akan menjadi penghapus dosa bagi kita, maka bersabarlah.

Wa billahit taufiq wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Surakarta
Sabtu ba’da Ashr, 5 Oktober 2013 (bertepatan dengan 29 Dzulqa’dah 1434 H)
Semoga catatan kecil ini sebagai pengingat bagi diri pribadi dan memberikan faidah untuk yang lain.

Catatan kaki:
[1] HR. Muslim no. 2999
[2] HR. Imam Ahmad 1/391
[3] HR. Bukhari no. 5318, Muslim 2573, At-Tirmidzi 966, Imam Ahmad 3/19

Referensi:
– At-Tabyin li Da’awatil Mardha wal Mushabin, karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr [ebook]
– Fiqh Al-Ad’iyyah wal Adzkar, karya Syaikh Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr [ebook]

[Renungan] Ending Cerita Makhluk Takabbur dan Tawadhu

بسم الله الرحمن الرحيم

Ada pelajaran yang sangat bagus yang patut kita renungkan bersama, di dalam Al-Qur’an terdapat gambaran tentang dua sifat yang saling berlawanan antara orang-orang yang bersyukur dan orang-orang yang kufur akan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

وليحذر كُلَّ الحذر من طغيان “أنا”، و”لى”، و”عندى”، فإن هذه الألفاظَ الثلاثةَ ابتُلى بها إبليسُ، وفرعون، وقارون

“Berhati-hatilah dengan berlebihan dalam perkataan, “Aku”, “Milikku”, “Aku Punya”. Sungguh, telah diuji Iblis, Fir’aun, dan Qarun dengan kata ini.”[1]

Apa maksud dari perkataan beliau ini? Padahal sih kelihatan sepele, tapi sebenarnya Iblis, Fir’aun, dan Qarun telah diuji dengan tiga kata ini dan mereka semua gagal. Ujian seperti apa? Dan konsekuensi apa ketika mereka gagal? Mari kita simak bersama-sama.

Pertama, kita akan berbicara mengenai Iblis terlebih dahulu. Siapakah Iblis? Jangan salah sangka kalau iblis itu sedari awal sudah menjadi makhluk pembangkang. Bahkan sebenarnya dulu dia ini ahli ibadah, bayangkan… (gak perlu dibayangkan sih, cukup dengan difahami) beratus-ratus tahun beribadah bersama para malaikat. Terus kenapa bisa jadi makhluk paling pembangkang dan kafir? Karena dia diuji dengan kata “Aku”. Iblis dengan lancang berkata kepada Allah ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Nabi Adam ‘alaihissalam,

أَنَا خَيْرٌ‌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ‌ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ

Aku lebih baik dari dia, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A’raf: 12)

Hingga akhirnya Allah mengusirnya dari surga,

فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُونُ لَكَ أَن تَتَكَبَّرَ‌ فِيهَا فَاخْرُ‌جْ إِنَّكَ مِنَ الصَّاغِرِ‌ينَ

“Turunlah kamu dari surga itu. Tidak sepatutnya kamu menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf: 13)

Sekarang sudah tahu? Iya, Iblis merasa sombong dan lebih baik dari Adam. Kemudian muncullah sifat hasad pada dirinya sehingga dia berusaha menjerumuskan Adam dan Hawa yang berujung dengan dikeluarkannya Adam dan Hawa ‘alaihimassalam dari surga. Untuk iblis, selain dikeluarkan dari surga dia juga diadzab oleh Allah dengan dijerumuskan ke dalam api neraka selama-lamanya kelak di hari akhir.

Sungguh sangat mengerikan akibat dari sombong ini, dia dulunya makhluk yang banyak beribadah akhirnya berubah menjadi makhluk paling kafir dan berujung dengan siksaan neraka jahannam, wal iyadzu billah.

Kedua, tentang Fir’aun. Manusia angkuh lagi melampaui batas. Padahal telah dikaruniakan kepadanya kekuasaan dan dibentangkan baginya wilayah yang luas. Dikaruniakan kepadanya berupa perhiasan dan harta benda serta kehidupan dunia. Hingga menyebabkan dia lalai, menganggap semua itu adalah miliknya. Fir’aun berkata kepada kaumnya,

يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ‌ وَهَـٰذِهِ الْأَنْهَارُ‌ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِي

“Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini milikku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku?” (QS. Az-Zukhruf: 51)

Fir’aun dengan angkuh dan kesombongannya ini, semakin menjadi-jadi. Puncak kesombongannya adalah menganggap dirinya adalah Rabb yang memiliki segala sesuatu!

فَحَشَرَ‌ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا رَ‌بُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Maka dia (Fir’aun) mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya (seraya) berkata, ‘Akulah rabbmu yang paling tinggi!’” (QS. An-Nazi’at: 23-24)

Akhirnya Allah murka kepadanya,

فَأَخَذَهُ اللَّـهُ نَكَالَ الْآخِرَ‌ةِ وَالْأُولَىٰ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَ‌ةً لِّمَن يَخْشَىٰ

“Maka Allah mengadzabnya dengan adzab di akhirat dan adzab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS. An-Nazi’at: 25-26)

Kemudian yang ketiga, Qarun. Seseorang dari bani Isra’il yang Allah lebihkan dari sebagian yang lain berupa perbendaharaan yang amat banyak.

وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ

“Dan Kami telah anugrahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.” (QS. Al-Qashash: 76)

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang aku punya.” (QS. Al-Qashash: 78)

Qarun merasa sombong dengan dengan apa yang telah dia capai, menganggap itu semua semata-mata karena ilmu yang ada pada dirinya. Dia menganggap bahwa harta dan benda yang dia miliki merupakan hasil dari keseriusan dan kecerdasannya semata. Merasa tidak ada seorang pun yang ikut campur di dalamnya. Hal inilah yang akhirnya menyebabkan kufur terhadap nikmat yang Allah karuniakan kepadanya. Hingga Allah murka kepadanya,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِ‌هِ الْأَرْ‌ضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِن فِئَةٍ يَنصُرُ‌ونَهُ مِن دُونِ اللَّـهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنتَصِرِ‌ينَ

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al-Qashash: 81)

Lihat bagaimana Iblis, Fir’aun dan Qarun mengatakan satu kata yang sama: “Ini Aku”, dan kita tahu bagaimana akhir kehidupan mereka. Tragis..

Sungguh benar apa yang dikatakan oleh banyak ahlul ilmi, orang yang mendalam ilmunya. Bahwa ujian merupa kepedihan hidup banyak orang yang bisa lulus dengan kesabaran. Akan tetapi ketika dihadapkan dengan kenikmatan justru banyak yang tergelincir, kufur nikmat, sombong, lagi lalai.

فَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ ضُرٌّ‌ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلْنَاهُ نِعْمَةً مِّنَّا قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ ۚ بَلْ هِيَ فِتْنَةٌ وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَ‌هُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.’ Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS. Az-Zumar: 49)

Jangan kita sangka ujian di dalam hidup itu hanya berupa kepedihan saja, kenikmatan itu juga sebagai bentuk ujian, justru lebih berat..

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah -seorang tabi’in-, beliau berkata,

كان يقال : ليس بفقيه من لم يعد البلاء نعمة والرخاء مصيبة

“Dahulu dikatakan: bukanlah seorang faqih (yang memahami agama secara mendalam) yang tidak menganggap ujian berupa musibah sebagai nikmat dan ujian berupa kesenangan sebagai musibah.”[2]

Sekarang memasuki pembahasan terakhir, kebalikan dari mereka bertiga. Inilah manusia-manusia yang memiliki kemuliaan, orang-orang yang jujur dengan keimanannya, kita akan menemukan jalan cerita yang happy ending. Bukan dongeng tapi kisah nyata yang benar-benar memiliki kadar ibrah yang luar biasa. Semoga kita termasuk orang-orang yang mengikuti jalannya.

Pertama, Nabiyullah Yusuf ‘alaihissalam. Bisa kita baca kisahnya dengan jelas pada Surat Yusuf, surat ke-12. Tidak perlu banyak tafsir untuk memahaminya karena surat ini mudah untuk dipahami. Bagaimana perseteruannya dengan saudara-saudara kandungnya sendiri, dibuang hingga menjadi budak. Fitnah dari istri Al-Aziz, hingga akhir yang bahagia, happy ending. Allah berikan kemuliaan, kedudukan agung di sisi manusia dan kembali bertemu ayahanda dan saudara-saudaranya seraya bersyukur kepada Allah,

أَنَا يُوسُفُ وَهَـٰذَا أَخِي ۖ قَدْ مَنَّ اللَّـهُ عَلَيْنَا ۖ إِنَّهُ مَن يَتَّقِ وَيَصْبِرْ‌ فَإِنَّ اللَّـهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ‌ الْمُحْسِنِينَ

“Akulah Yusuf dan ini saudaraku. Sesungguhnya Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami.” Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. Yusuf: 90)

Kedua, Dzulqarnain ‘alaihissalam yang Allah berikan kepadanya kekuasaan timur sampai barat, seorang pemimpin yang ‘alim lagi adil.

وَيَسْأَلُونَكَ عَن ذِي الْقَرْ‌نَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُم مِّنْهُ ذِكْرً‌ا إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْ‌ضِ وَآتَيْنَاهُ مِن كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا فَأَتْبَعَ سَبَبًا

“Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain. Katakanlah, ‘Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya.’ Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka diapun menempuh suatu jalan.” (QS. Al-Kahfi: 83-85)

Hingga suatu ketika beliau menjumpai suatu kaum dan meminta beliau membangun dinding dari serangan Ya’juj dan Ma’juj,

قَالَ هَـٰذَا رَ‌حْمَةٌ مِّن رَّ‌بِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَ‌بِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَ‌بِّي حَقًّا

“Dzulqarnain berkata, ‘Ini (dinding) adalah karunia dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)

Dan yang terakhir, ketiga, Nabiyullah Sulaiman ‘alaihissalam. Nabi Daud ‘alaihissalam mewarisikan kepadanya kerajaan yang tiada tandingan. Ketika beliau memerintahkan pasukannya untuk memindahkan singgasana ratu Bilqis,

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْ‌تَدَّ إِلَيْكَ طَرْ‌فُكَ ۚ فَلَمَّا رَ‌آهُ مُسْتَقِرًّ‌ا عِندَهُ قَالَ هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَ‌بِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ‌ أَمْ أَكْفُرُ‌

“Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab, ‘Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.’ Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ‘Ini termasuk kurnia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40)

Yusuf, Dzulqarnain, dan Sulaiman, para penguasa yang shalih, semuanya pun punya satu kata: “Ini Karunia Rabbku

Maka, manakah yang akan dipilih? Menjadi senasib dengan Iblis, Fir’aun, dan Qarun, dengan menyombongkan diri kita. Atau mengikuti jejak langkah Yusuf, Dzulqarnain, dan Sulaiman dengan bersykur dan merendah kepada Rabb kita?

فَاعْتَبِرُوا يَٰأُوْلِى البْصَٰرِ

“Maka ambilah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS. Al-Hasyr: 2)

Dan sebagai tambahan, hendaklah setiap diri kita menyadari, tidaklah sepantasnya untuk bersikap sombong dan angkuh. Bukan hanya masalah keduniaan saja. Tetapi masalah amal ibadah, merasa lebih senior dan lebih lama mengikuti kajian Islam misalnya. Telah banyak mengikuti kegiatan sosial ini itu, acara ini dan itu lantas merasa lebih dibandingkan yang lain. Tidak seperti itu saudaraku, sebagai muslim yang benar imannya hendaknya dia tawadhu’ dan berusaha ikhlas karena Allah Ta’ala.

Allah sama sekali tidak menilai banyak-sedikit amaliah seseorang akan tetapi Allah melihat kadar ibadah seorang hamba itu sendiri, siapa yang beramal dengan paling baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

تَبَارَ‌كَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 1-2)

Allah mengatakan “ahsanu ‘amala” (lebih baik amalnya) bukan “aktsaru ‘amala” (lebih banyak amalnya). Dan amal yang baik adalah amal yang ikhlas mengharap ridha Allah semata dan sesuai dengan petunjuk dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Walaupun telah banyak amalnya tapi tidak memiliki kadar keikhlasan, maka sia-sia, sia-sia..

Sungguh amalan yang kecil dan remeh namun ikhlas bisa berbuah pahala dan ampunan yang sangat besar, meskipun hanya membuang duri dari jalan, membuang duri dari jalan..

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم: بينما رجل يمشي بطريق، وجد غصن شوك فأخذه، فشكر الله فغفر له

Abu Hurairah berkata: Bahwasanya Rasulullah bersabda, “Ada seseorang yang ketika berjalan di sebuah jalan dia menemukan potongan duri, lalu diambilnya potongan duri tersebut dan disingkirkan dari jalan. Maka Allah bersyukur atas apa yang perbuatnya tersebut lalu Allah mengampuninya.[3]

Maka janganlah kita meremehkan orang lain dan merasa sombong atas apa yang telah kita raih baik berupa harta maupun amal ibadah. Wallahu Ta’ala a’lam.

Surakarta, 14 November 2013
Rizky Tulus (http://wp.me/Q4q7)

NB: reblog dari merajutkata

Catatan kaki:
[1] dalam Kitab Zaadul Ma’aad juz 2, karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah
[2] dalam Kitab Az-Zuhd hal. 456, karya Ibnul Mubarak
[3] Shahih, riwayat Bukhari no. 2292, Muslim no. 4743

Ta’aruf dengan Luqman Hakim

Bismillahirrohmaniir rohiim

Ta’aruf dengan Luqman Al-Hakim

Sepertiga dari Al Qur’an berisi dari kisah-kisah sejarah yang terdapat pelajaran di dalamnya. Banyak kisah sejarah yang direkam AL Qur’an adalah kisah nabi dan rasul dan hanya sedikit kisah sejarah tentang seseorang yang bukan nabi dan rasul tetapi diabadikan di AL Qur’an, bahkan namanya menjadi salah satu nama Surah. Diantara orang yang sedikit itu adalah Luqman. Mari kita ta’aruf dengan orang spesial ini.

Luqman adalah seorang berkulit hitam, pendek, berhidung pesek dan berbibir tebal. Menurut imam Ath Thobari, beliau berasal dari Naubah  dan hidup dimasa Nabi Daud (‘alayhissalam).  Sebagian pendapat menyebutkan bahwa Luqman adalah seorang hakim dari kalangan bani israel. Sedangkan sebagian pendapat lain menyebutkan beliau adalah seorang hamba sahaya. Wallahu’alam. Tetapi satu yang disepakati jumhue Ulama, Allah memberi Luqman hikmah dan tidak diberi kenabian.

Ada beberapa riwayat tentang Luqman yang menceritakan bagaimana hikmah dikaruniakan kepada beliau.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Waki’ dari ayahnya dari Abu Al-Asyhab bahwa Khalid Ar-Rib’i berkata . “Luqman adalah seorang hamba sahaya habasyi. Tuannya berkata “sembelihlah kambing ini”. Luqman pun menyembelihnya. Tuannya berkata lagi ‘ambilkan dua daging terbaiknya’. Ketika itu Luqman mengambil lidah dan hati. Setelah itu tuannya diam, dan selang berapa lama, ia kembali menyuruh , ‘sembelihlah kambing ini’. Luqman pun menyembelihnya. Tuannya berkata ‘ambilkan dua daging terburuknya’. Luqman pun mengambi lidah dan hati.

Melihat hal itu, tuannya berkata padanya ‘aku memerintahkanmu mengambil dua daging terbaiknya, kau mengambil hati dan lisan. Dan aku memerintahkanmu mengambil dua daging terburuknya, kau juga mengambil hati dan lidah’.

Luqman pun berkata, ‘tidak ada sesuatu pu yang lebih baik dari keduanya, bila keduanya baik. Dan tidak ada sesuatu pun yanglebih buruk dari keduanya, bila keduanyaburuk’”.

Riwayat lain dari Abdullah bin Wahab, bahwa Umar, budak Ghafirah berkata. “seseorang menghampiri Luqman Al-Hakim dan bertanya, ‘Kau Luqman, hamba sahaya Bani Al-Hashas?’ Luqman menjawab. ‘ya’.

‘Kau si Penggembala kambing?’ .

‘ya’.

‘Kau si Hitam?’.

‘ya, kulitku hitam ini jelas terlihat, lalu apa yang membuatmu heran kepadaku?’

‘orang-orang menempati tikarmu, mereka memenuhi pintamu dan menerima perkataanmu.’

Luqman berkata ‘wahai keponakanku, bila kau mau mendengar perkataanku kau akan menjadi seperti itu juga. Aku menundukkan pandanganku, menahan lisanku, menjaga ketamakanku, dan menjaga kemaluanku. Aku juga jujur dalam bertuturkata, menepati janji, memuliakan tamu, menjaga tetanggaku, dan  meninggalkan yang tidak berguna bagiku. Itulah yang membuatku menjadi seperti yang kau lihat’.”

—–

Subhanallah, dari sedikit ta’aruf dengan Luqman Al-Hakim diatas kita ambil pelajaran bahwa kemuliaan seseorang tidaklah dipandang dari fisiknya yang hitam, pendek, berbibir tebal atau deskripsi lain untuk mengatakan “jelek” secara fisik. Tapi lihatlah Luqman Al-Hakim, secara fisik beliau tidaklah ganteng dan gagah tapi beliau mulia di hadapan orang lain dan tentunya di hadapan Allah karena ketakwaannya yang diimplementasikan dengan menundukkan pandangan, menahan lisan,  menjaga ketamakan, menjaga kemaluan, jujur dalam bertuturkata, menepati janji, memuliakan tamu, menjaga tetanggaku, dan  meninggalkan yang tidak berguna.

Semoga kita bisa menjadikan Luqman Al-Hakim sebagai salah satu teladan.

*bersambung ke cerita tentang anak beliau*

Sumber : Wisdom of Luqman El-Hakim, karya Ibrahim Abdul Muqtadir.

Mari Perbanyak Tilawah

Bismillahiirohmaniirrohiim

Assalamu’alaykum warahmatulloh wabarakaatuh

semoga ikhwahfillah dalam keadaan sehat dan dalam naungan perlindungan Alloh swt , selalu.

Suatu ketika, pernah seseorang, sebutlah sifulan, bertanya kepada seorang ustadz seputar Al Qur’anul kariim. pertanyaan yang mungkin sering terlontar dalam benak kita atau mungkin juga kita temui beberapa saudara yang menanyakan hal ini. Pertanyaan sifulan tersebut adalah “manakah yang lebih utama, membaca Al Qur’an yang berbahasa arab itu sebanyak-banyak nya dalam satu hari tanpa kita mengetahui artinya? atau kita membaca Al Qur’an sedikit saja tetapi paham artinya?, sebagai contoh : lebih baik mana kita membaca surah Al Baqarah yang berderet dari juz 1-3 itu dalam satu hari tanpa tahu arti tiap ayatnya, atau kita membaca alfatihah dan trio qul (qulhu, qul falaq dan qul naas) dalam sehari tapi paham arti nya?”

Pertanyaan sederhana yang sangat menarik bukan? Sang ustadz pun menjawab pertanyaan sifulan dengan sangat cerdas. Akhi, yang penting adalah DURASI nya, seberapa lama antum melakukannya” . “jika dalam jangka waktu satu jam, antum bisa membaca satu juz dengan bacaan yang benar dan paham arti maknanya maka hal tersebut sangat lah utama”. Tetapi jika dalam satu jam tersebut antum bisa membaca satu juz tanpa paham arti maknanya, hal tersebut masih lebih baik dibanding setengah jam antum membaca seratus ayat dengan mengetahui arti maknanya, dan sebaliknya jika antum dalam satu jam bisa membaca seratus ayat dengan memahami maknanya, hal tersebut lebih utama dibanding antum membaca satu juz tanpa tahu artinya dalam waktu setengah jam”.

Al Qur’an adalah kitab suci agama islam yang diturunkan Alloh melalui Jibril ke Muhammad dalam bahasa arab. Seorang muslim yang lahir di negeri dengan bahasa ibu bukan bahasa arab tentu akan kesulitan memahami ayat-ayat Al Quran jika tidak belajar dengan sungguh-sungguh, meskipun dia lancar melafalkan ayat-ayat Al Qur’an yang berbahasa arab itu. Ada cerita menarik mengenai membaca Al Qur’an tetapi tidak memahami arti apa yang dibaca  Terlepas cerita ini shahih atau tidak (kita berlepas diri dari perdebatan keshahihannya ya), tapi cerita ini menurut saya bisa dijadikan motivasi kita untuk bisa membaca Al Qur’an sesering mungkin. Kisahnya seperti berikut

Ada seorang anak bertanya pada bapaknya (bimboo banget 🙂 ), “ayah, mengapa saya harus banyak membaca Al Qur’an? sedangkan saya sendiri tidak tahu arti Al Qur’an itu sendiri ayah?” dengan bijak sang ayah pun menjawab “anakku, coba bawakan ember kotor yang  bocor bekas kita pergi ke ladang tadi” , Sang anak pun menurut. “sekarang kamu isi air ember itu dari sumur lalu tuangkan ke bak kamar mandi, lakukan berulang kali” .setelah beberapa kali bolak balik dari sumur ke kamar mandi yang berjarak 20 meter, sang anak pun mengeluh “ayah ember bocor ini mana bisa dibuat membawa air dari sumur ke kamar mandi?”  Sang ayah pun tersenyum. “anakku, memang ember tersebut tidak bisa memenuhi isi bak mandi, tapi kamu lihat anakku… setelah berulang kali kau isi ember tersebut dengan air sumur, ember kotor tadi menjadi bersih kan?” . Sang anak pun mengangguk “aku mengerti ayah” ..

Film Koran By Heart juga bisa kita jadikan motivasi. Film dokumenter yang dibuat Greg Baker, seorang non-muslim dari Amerika, itu menceritakan kompetisi hafidz di Mesir pada tahun 2009  yang  diikuti 110 hafidz dari 70 negara, diantaranya dari Maladewa, Senegal, Tajikistan dan lain-lain, termasuk Indonesia. (Sayangnya, hafidz dari Indonesia tidak diangkat dalam film ini). Singkat cerita, setelah proses kompetisi yang panjang, pemenang lomba ini adalah Abdulloh dari Mesir, Rifdha dari Maladewa dan Nabiollah Saidov dari Tajikistan. Yang menarik adalah Nabiollah Saidov yang mempunyai suara merdu itu tidak bisa membaca bahasa daerah Tajikistan, dia juga tidak paham mengenai bahasa arab. Tapi karena karunia Alloh, dia bisa menghafal AL Quran di usia 10 tahun. Film ini menurut saya, recommended untuk membangkitkan ghirah dalam menghafal Al Quran.  🙂

index

Nabiollah Saidov, juara 3 lomba hafidz cilik tahun 2009, yang tidak bisa bahasa arab. (koran by Heart film)

Dalam kisah lain (yang ini insya Alloh shohih), seorang mukmin yang membaca Al Qur’an itu diumpamakan seperti buah-buahan oleh Rasul.

Dari Abu Musa Al-Asy`arit berkata, Rasulullah bersabda, “Perumpamaan orang mukmin yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah limau baunya harum dan rasanya lezat. Dan perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan kurma, rasanya lezat dan tidak berbau. Dan perumpamaan orang munafik yang membaca Al-Qur`an bagaikan buah raihanah yang baunya harum dan rasanya pahit, dan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca Al-Qur`an bagaikan buah hanzholah tidak berbau dan rasanya pahit.” (HR Bukhari dan Muslim) 

Kita sebagai seorang muslim dan mukmin, ingin menjadi buah yang mana? Buah Limau atau Kurma? (saya yakin buah limau deh 😀 ).  Durasi membaca Al Qur’an dan memahaminya berpengaruh terhadap dari bau buah limau tersebut. Semakin lama kita membaca, memahami dan mepelajari Al Qur’an maka bau dan aroma harum yang dipancarkan semakin kuat… Dan jika kita mengamalkan isi Al Qur’an maka buah yang huaruuum tadi akan menjadi suangaatt lezzaatt… 🙂

Semoga Alloh memberi kita kekuatan iman untuk senantiasa membaca Al Qur’an, mempelajari nya, mengamalkan nya dan mengajarkan nya. Allohummarhamnaabilquran, waj’alhulana imaaman wanuuraan wahuudan warohmah.

Sumber :  kajian “bersemilah Ramadan”  ustadz Armen Halim Naro (rahimahulloh),  materi liqo ustadz Afwan riyadi, sumber hadits: rumahfiqih.com

Tadabbur QS Al Ma’arij 19-35, Jangan mengeluh

Bismillahirrohmaniirohiim

Pernahkan sobat melihat orang stress, gila karena tiba-tiba perusahaannya bangkrut? Atau pernahkah kita membaca berita di Koran tentang seorang yang bunuh diri karena cinta nya bertepuk sebelah tangan?  Atau mungkin ini yang sering kita lihat di social media saat ini, update status MENGELUH terjebak macet dan hujan di facebook atau nge-tweet GALAU diputusin pacar di  twitter ?

Sobat, banyak hal terjadi dalam kehidupan ini yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Dan Alloh, sebagai Khaliq dari manusia, memang menciptakan ujian-ujian bagi manusia untuk mengetahui mana manusia pilihan yang Dia cintai atau yang Dia murkai.  Sobat tau ga kalau ternyata secara default, Alloh menciptakan manusia dalam keadaan lemah dan suka berkeluh kesah? Coba dibuka Al Quran juz 29, surah Al Ma’arij, ayat 19-21 deh.

إِنَّ الْإِنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا {19}

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.

إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا {20}

Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,

وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا {21}

dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,

Tuh kan bener, Alloh menciptakan kita, manusia,  defaultnya suka mengeluh jika ditimpa kesusahan ataupun hal-hal yang tidak kita harapkan. Disadari atau tidak, kita sering mengeluh dan ngomel-ngomel  jika terjebak macet  di jalan, tidak jarang juga kita mengeluh saat sakit yang diderita tidak kunjung sembuh, kadang kita “complain” pada Alloh mengapa kita dikaruniakan rezeki yang pas-pas an padahal sudah berusaha maksimal.  Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (QS Al Fajr : 16)

Selain bersifat keluh kesah, ternyata sifat alami manusia yang lain itu adalah “matre”, suka ijo matanya lihat duit, kikir! sehingga ketika ia mendapat rezeki yang lebih, ia cenderung berpikir bagaimana hartanya bisa bertambah banyak lagi dan jangan dikeluarkan hartanya tersebut untuk kebaikan. Susah-susah ngumpulin harta kok dibagi ke orang lain?

Tetapi jangan khawatir sobat,  Alloh adalah dzat yang Maha Bijaksana dan Adill. Tidak mungkin Alloh memberi manusia suatu penyakit tanpa obat, suatu permasalahan tanpa solusi. Begitu juga dengan keluh kesah yang sering kita lakukan itu, Alloh sudah mempersiapkan obat dan solusi agar manusia tidak bekeluh kesah dalam menjalani hidup ini. Coba kita lanjutin baca surah AL Ma’arij nya sobat, ayat 22 – 34. Di ayat ini, solusi keluhan dan obat galau di sebutkan secara jelas seperti berikut :

1. Sholat

إِلَّا الْمُصَلِّينَ {22}

kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,

الَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَائِمُونَ {23}

yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya,

Dengan sholat, galau bisa hilang sob. Di ayat 22-23 bisa kita pahami bahwa obat galau yang pertama adalah sholat yang “daiim” atau istiqomah. Jalankan sholat lima waktu, berjamaah bagi laki-laki tanpa udzur, on time! Jangan lupa sholat sunnahnya juga dilakukan sebagai tambahan ya. Keampuhan sholat mengatasi galau dan keluh kesah akan berkurang jika sholatnya hanya dilakukan saat kita tertimpa musibah atau sedang galau berat. Sholat yang dimaksud disini adalah sholat wajib ya. Galau tidak galau, senang susah, tertimpa musibah atau tidak, sholat lima waktu WAJIB dilakukan sob ya.

2. Menafkahkan Harta nya

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ {24}

dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu,

لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ {25}

bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta),

Menafkahkan harta ini lebih baik di planning, kita rencanakan berapa persen bagian dari rezeki yang kita dapatkan tiap bulanya untuk bersedekah, infaq dan juga zakat. Insya Alloh, dengan berbagi kita bisa menghilangkan sifat kikir dan keluh kesah. Dengan mensedekahkan harta kita ke kaum dhuafa, kita bisa tahu terrnyata masih banyak manusia yang diuji Alloh lebih berat daripada kita. Dan betapa seharusnya kita malu sob jika mengeluh tentang keadaan ekonomi kita yang masih bisa makan tiga kali sehari dengan lauk yang enak. Mereka para penghuni bantaran kali yang tinggal di kolong jembatan harus mengais sampah untuk mendapatkan nasi basi untuk dimakan. L

 3. Percaya hari pembalasan dan takut adanya adzab.

وَالَّذِينَ يُصَدِّقُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ {26}

dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan,

وَالَّذِينَ هُمْ مِنْ عَذَابِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ {27}

dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.

إِنَّ عَذَابَ رَبِّهِمْ غَيْرُ مَأْمُونٍ {28}

Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya).

Sobat,  ayo dibayangkan bagaimana mencekamnya hari kiamat kelak dimana matahari tinggal sejengkal jaraknya dari kepala, gunung-gunung berterbangan dan manusia berlarian tidak peduli lagi pada anaknya, ibu bapaknya maupun sahabatnya. Saat itu, mereka hanya sibuk menyelamatkan dirinya. Coba kita bayangkan pedihnya adzab neraka yang jika api itu menyentuh telapak kaki kita maka ubun-ubun ini akan mendidih.

Ah.. sungguh mencekamnya musibah di dunia tidak sebanding mencekamnya hari kiamat kelak. Sungguh menderitanya kita di dunia tidak ada apa-apanya disbanding derita di neraka kelak. Kalau sudah begini, masih mau galau dan mengeluh sob?

4.  Memelihara kemaluan dari zina

وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ {29}

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya,

إِلَّا عَلَىٰ أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ {30}

kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela.

فَمَنِ ابْتَغَىٰ وَرَاءَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْعَادُونَ {31}

Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.

Zina adalah salah satu dosa besar dari sepuluh dosa besar versi ustadz Yusuf Mansyur yang hukumannya di dunia bisa dicambuk/dera seratus kali sampai dirajam. Memang zina ini dilarang dalam islam, jangankan zina mendekatinya saja kita dilarang kok. Oleh karena itu, bagi sobat-sobat yang pacaran, segera tanggalkan status “pacaran” nya. Kalau berani ya dilanjutkan ke pernikahan, kalau belum mampu mendingan jomblo aja sampai aqad mitsaqan ghalidho diucapkan.

5.  Memelihara amanat, menepati janji

وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ {32}

Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.

وَالَّذِينَ هُمْ بِشَهَادَاتِهِمْ قَائِمُونَ {33}

Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya.

6.  Memelihara sholat nya 

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ {34}

Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.

Orang yang memelihara sholat nya, sudah disebutkan di poin satu ya. Kata “yuhaafidzzun” disini bisa diartikan dengan khusyuk.  sedangkan “daaimuun” pada poin satu bisa diartikan istiqomah, konsisten. Jadi, sholatnya khusyuk dan istiqomah sob.

—-

Setelah Alloh menjabarkan solusi dari berkeluh kesah dan kikir diatas, maka bagi manusia yang lulus ujian dengan tidak berkeluh kesah dan termasuk kriteria-kriteria diatas, maka syurga lah tempat mereka kelak di akhirat. Dan ini adalah janji Alloh yang pasti dan benar.

أُولَٰئِكَ فِي جَنَّاتٍ مُكْرَمُونَ {35}

Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan.

Ternyata Alloh sudah mempersiapkan semuanya. Sifat dasar manusia, ujian-ujian dalam kehidupan, cara-cara melewati ujian tersebut dan akhir dari kehidupan manusia. Sekarang  tinggal manusia nya,  mau mengikuti petunjuk yang haq dari penciptanya atau tidak.

Masalah itu ibarat sesendok garam, dan hati kita adalah air. Jika garam sesendok tadi kita taruh di segelas air, maka air tadi akan terasa asin yang sangat. Tetapi jika sesendok garam tadi kita taburkan di kolam air, maka air tetaplah tawar.

Stop complaining, keep moving,  Semoga tidak ada lagi GALAU diantara kita. 😀

index2

-liqo dg ust Afwan Riyadi, 3 september  2013-

Persaksianku – Sebuah Puisi

4

Duhai Allah…

Izinkan aku menyampaikan ini kepadaMu…

Kali ini bukan tentangku…

Bukan curahan risau gelisahku…

Tidak pula tentang rindu redamku…

Mataku, telingaku, hidungku hingga setiap pori tubuhku

Berpadu, bersatu hendak menyampaikan padaMu

“Ini adalah tentang persaksianku…!”

Tentang cerita para hambaMu

Tentang kisah para pencintaMu…

Allah…

Aku begitu takjub padanya…

Aku heran akan kemerdekaan jiwanya…

Aku terpana akan pilihan hidupnya…

Tergetar aku terhadap kemurnian kalbunya…

Kukatakan, “Tidakkah kau terlalu banyak berkorban?”

Jawabnya, “Ini adalah pengabdian…”

Kubertanya, “Tidakkah engkau lelah?”

Sapanya, “Lelah telah tergantikan dengan cinta…”

Allah…

Aku ingin mengecup dan meraih cintaMu

Peluk mesra mengisi batinku

Namun…, kemudian aku tersadar

Langkah, pengorbanan, pengabdian, lelah dan jerih payah Sang Pejuang itu

Lebih pantas untuk mendapatkan cintaMu…

Rodhiyallahu wa rodhuu anhu

Dzalika liman khosiya robbahu…

(Allah meridhainya dan mereka pun ridho padaNya

Itulah bagi mereka yang benar-benar takut (tunduk dan bersimpuh) pada Rabbnya…)

Jakarta, 14 Juni 2013